Pemimpin? sosoknya seperti apa??

28 06 2009

Bismillaahir rahmaanir rahiim……

Suatu Ketika, Rasulullah saw dan para sahabat menempuh perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan. Perbekalan semakin berkurang hingga air pun tidak lagi mencukupi hajat begitu banyak orang. Di tengah padang tandus dan pegunungan gersang, tidak ada yang dapat diharapkan selain kemurahan Allah SWT, maka dalam keadaan seperti itulah mukjizat berperan.

Abu Qatadah menuturkan, dari tempat wudhu Rasulullah saw yang dibawahnya mengalir air yang dapat mencukupi kebutuhan minum semua rombongan. Kepada orang – orang yang kehausan itu, beliau hanya meminta agar tidak berebutan karena semuanya akan mendapat bagian. Rasulullah yang menuangkan air, sementara Abu Qatadah yang membagikan. Setelah semuanya minum, tinggallah mereka berdua. Abu Qatadah tentu saja tidak mau mendahului pemimpin teragung yang berdiri di depannya, maka dia berkata, “Minumlah, wahai Rasulullah”. Tapi Baginda Rasul malah menjawab, “Tidak, orang yang memberi minum mesti minum paling akhir.” (HR Muslim).

Dalam momentum yang sangat kritis itu, Rasulullah saw memberi pelajaran besar tentang prinsip yang harus ditunjukkan oleh siapa pun yang mengurus kepentingan orang banyak, terlebih para pejabat dan pemimpin. Hal yang sama selalu beliau lakukan di pelbagai kesempatan. Bahkan, lazim diketahui bahwa jika ada rakyat yang terdesak kebutuhan, maka Rasulullah saw dan keluarganya selalu lebih dahulu mengulurkan tangan. Jika tidak punya, baru beliau minta bantuan kepada para sahabat. Sebaliknya, di kala senang, beliau akan lebih dulu memastikan semua orang mendapatkannya, sebelum keluarga dan dirinya sendiri.

Perilaku pimpinan akan berpengaruh langsung terhadap kondisi rakyat. Hukum kausalitas ini berlaku pasti, karena dalam Islam, hubungan pemimpin dan rakyat bermuara pada akad yang disepakati kedua belah pihak secara mengikat. Masalah ini begitu jelas, sehingga tidak perlu penjelasan teoritis yang rumit. Hanya, barangkali kita perlu sedikit membuka lemabaran sejarah untuk menguatkannya.

Prinsip kepemimpinan yang diajarkan Rasulullah saw di atas tampaknya begitu meresap dalam diri para sahabat. Saat mereka menjadi pemimpin, semuanya berprinsip dan berprilaku sama, harus menjadi orang yang pertama kali susah di saat rakyat susah dan menjadi orang yang terakhir senang di saat rakyat senang.

Ketika wilayah Hijaz dan sekitarnya dilanda musin kering panjang yang berlangsung hampair satu tahun (Ramadah), sehingga menurut al-Waqidi dalam Thabaqat Ibn Sa’ad, Madinah disesaki sekitar 60 ribu pendatang yang semuanya kelaparan, Umar bin Khaththab menolak makan roti enak dengan minyak samin, apalagi daging. Umar lebih memilih roti kering yang dimakan dengan minyak nabati, makanan yang juga dia hidangkan kepada rakyat yang sedang kelaparan itu.

Beberapa sahabat termasuk putranya sendiri, Abdullah, sempat memberi saran yang cukup logis agar Umar mengkonsumsi makanan yang lebih baik supaya kesehatannya terjaga dan lebih kuat untuk mengurus umat. Tapi Umar tetap menolak. Bahkan, makan sedikit enak dalam kondisi susah seperti itu dianggap Umar sebagai israf , perilaku berlebihan yang dibenci Allah. Selama mengatasi penderitaan rakyatnya itu, Umar menyatakan prinsip yang tegas, seperti dituturkan ath-Thabari, “Bagaimana aku bisa peduli terhadap nasib rakyatku, jika aku tidak ikut menderita seperti mereka!”

Sikap seperti ini hanya akan muncul dari pemimpin yang memahami kekuasaan sebagai amanah yang harus ditunaikan kepada yang berhak, yaitu rakyat. Pemimpin yang memahami kekuasaan sebagai taklif (tugas berat dari Allah) dan bukan sebagai tasyrif (penghormatan), sehingga popularitas dan penghormatan tidak diberhalakan sebagai parameter kesuksesannya, melainkan kebenaran dalam menunaikan amanah. Jika tidak demikian, maka yang akan muncul adalah asumsi bahwa pemimpin adalah ‘tumbal’ kesejahteraan rakyat.

Ditengah masyarakat yang sejahtera, pemimpin bisa dan boleh kaya, sekaya Usman bin Affan misalnya, yang piutangnya di tanan Thalhah saja menecah 5.000 dinar (5 miliar rupiah) dan setiap Jum’at memerdekakan seorang budak. Ini berarti, menurut al-Haitsami, 2400 budak telah dimerdekakan Usman selama hidupnya. Tapi itulah Usman, piutang sebanyak itu dia putihkan begitu saja. Pakaian sehari – hari seharga pakaian rakyat biasa. Bahkan menurut Imam Ahmad dalam az-Zuhd, Usman selalu menjamu masyarakat dengan makanan selayaknya makanan raja. Tapi di dalam rumahnya sendiri, hanya tersedia roti dan minyak nabati.

Dalam kondisi sulit ini, kita butuh pemimpin yang maun hidup bersahaja, agar rakyat hidup sejahtera.

Wallahu’alam…

Sumber : Asep Sobari, Majalah Sabili No. 25 TH XVI 9 Rajab 1430 H
(Unee Ryanthie Mungil)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: