Karena Aku ingin Menjadi Guru

8 05 2009

Karena Aku Ingin menjadi Guru

Suatu pagi di halaman rumah…

Flash back…. sosok gadis itu.. seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.. ada banyak kertas bernama bepe-bepean alias BP (bongkar pasang.red). dia sibuk membongkar pasangkan secarik baju yang terbuat dari kertas pipih nan tipis, keningnya mengeryit, berlipat-lipat, menumpuk.. hingga siluet ‘manyun’ di bibirnya terukir. Kesal begitu jelas wajahnya berkata. Lalu terlontarlah “Ah ci aa mah beli bepe teh meni awon (jelek), tuh, gak ada yang cocok bajunyaaaa” (berteriak hampir menjerit hingga seantero rumah gempar). Lalu tergoipoh-gopoh kakak laki-lakinya datang, “Eh, kenapa ari euni.. (nama cilik gadis itu) ga boleh ambeuk gitu atuh, awon, katanya mau jadi guru, ko gampang marah gitu?? Nanti muridnya pada kabur lho!” entah mengapa, mendengar kata guru disebut, lengkung bulan sabit langsung terlukis di wajah mungil gadis itu. Entah jua berawal dari mana, ketika mendung menggayuti wajahku, kontan ke-5 kakakku berujar dengan nada mengancam.. kalau mau jadi guru, jangan titik-titik nanti titik-titik, dengan nafas berat yang tertahan, akhirnya kutahan bening mutiara itu meluncur agar tidak mengalir deras. Kenapa??

Karena aku ingin menjadi guru!

Suatu pagi di sebuah kelas SD…

“Ayoooo, acungkan tangan siapa yang cita-citanya mau jadi guru??” sontak gadis kecil itu mengacungkan tangan sambil menahan nafas berharap jemari-nya lah yang pertama terlihat oleh tatp mata gurunya yang ayu. “Ayoo ada lagi?” aku heran, kan aku sudah mengacungkan tangan bu! “ayoo siapa??”, aku kesal, ini aku bu!, walau peluh mengaduh, namun jemariku masih setia menantang udara. “oh, gak ada lagi?”. Aku jadi tersadar, aku menengok ke kanan, kiri, belakang, depan, atas, bawah (ups.. mustahil :P)

Ternyata cuma jemariku yang ada disana. Menjadi dokter, menjadi polisi, menjadi pilot, menjadi tentara, lebih dominan mewarnai. Tetapi menjadi guru?? Kenapa??

Karena aku ingin menjadi guru!

Suatu petang merona ba’da maghrib, di sebuah masigit…

Dalam balutan kerudung merah jambu, mengalir nada lembut, keras, bahkan teriak, sambil memegang sebuah benda putih yang ketika digerakkan, terteralah disana huruf-huruf alif, ba, ta, tsa, jim…. di atas papan hitam yang sederhana. Dan semua mulut gaduh berebut untuk menyebutkan ketika satu persatu huruf-huruf tersebut mulai dieja.

Ketika bel berbunyi, seorang ibu menghampiriku dan bertanya, “kenapa mau mengajar murang kalih? (murang kalih= anak-anak. red)”. Yah, kenapa??

Karena aku ingin menjadi guru!

Dan.. ketika pertanyaan itu berulang, SD, SMP beres, bahkan ketika SMA pun tuntas, jawaban apa yang kuberikan?? Pinterrrrrr, yup, seakan lidah ini tak pernah bosan untuk berucap, hingga jemari tidak pernah lelah berdiri. Karena aku adalah gadis kecil itu dan karena aku ingin menjadi guru!

Menjadi guru, itulah yang membuatku terpikat oleh ramahnya gedung-gedung UPI (dulu masih rindang nan hijau), menjadi guru, seakan proudly present.. inilah aku.. menjadi guru. Ah, betapa indah menjadi guru. Aku membayangkan aku di depan kelas, aku yang tersenyum, aku yang kesal, aku yang marah bahkan murka, namun aku juga bisa terbahak, aku bercucuran peluh bahkan sedu aku di depan, dan mereka yang kunamai murid-muridku tekun mendengarkanku bicara! Amboy.. indah nian aku disana, serasa lengkaplah sudah (sstt.. bukan penderitaan namun anugerah).

Namun kawan, tahukah kau, seakan ringkih dan tertatih asa menjadi guru ini ku asah agar dia tidak pudar termakan kejahilanku. Yah, aku jahil pada arah yang ku ambil sekarang. Arah yang selalu aku hindari ketika arah tersebut meminta waktuku dengan paksa ketika SMA. Bahkan aku sempat membencinya. Aku memang berniat menjadi guru, tetapi.. bukan arah ini yang hendak aku ambil, aku menginginkan arah yang lain!

Lagi-lagi karena aku ingin menjadi guru, aku ingin di gugu dan di tiru maka aku malah memaksakan diri untuk mencintai arah ini. Ketika niat itu ku pasak kan, maka tersingkaplah semua tabir, terkuaklah semua kejahilan,, bahkan kini aku hendak menghancurkan belenggu itu!

Suatu ketika di 2020…..

Jam 08 pagi..

Langkahku cepat menuju ruangan putih megah di lantai 5, sebelum langkahku sempurna, aku dipindai dan aku berputar, dan ada sebuah suara berkata “ya, anda diterima, silakan masuk” . aku duduk di kursi yang putarannya mampu mengelilingi dunia. Di depan ku sang dosen bersiap menyajikan materi seminar berjudul “Wajah pendidikan TIK di masa ILKOM 2020” dalam bentangan layar lebar yang ketika duduk tersudut jauh sekali di belakang masih tetap jelas terlihat layaknya ruangan bersejarah E_405 dan E_406 dahulu. Pagi ini di sekelilingku berpuluh pasang mata tekun menyimak.

Musik mulai mengalun, dosen berkata : “silakan pakai kacamata 3D anda”, serentak semua patuh. “Selanjutnya silakan anda rangkum ulasan materi seminar ini lalu kirimkan ke saya sekarang”. Semua mata pun tertunduk, tak-tik-tuk para jemari mulai menari dan terteralah huruf-huruf itu di di sebuah layar, lebih kecil dari yang di depan memang, namun dengan fitur yang tak kalah mendekati sempurna. 45 menit kemudian, terjadi ramai yang danjurkan karena semua bertanya, menjawab, berpendapat, menyanggah, memyampaikan aspirasi hingga sampai pada satu kesimpulan.

Jam 11 siang…

Berpuluh langkah menuju 1 tempat untuk mengisi perut yang hampa. Sedikit berebut menaiki lift menuju lantai 1. Di sebuah ruangan, lebih kecil dari E_405 namun tetap nyaman, ada 5 meja panjang dengan kursi ‘bos’ dan tetap, sebuah layar lebar (mirip di UPI_Net dahulu namun ini lebih lebar). Dengan santai aku dan teman-teman makan dan minum sambil menonton layar berbungkus kaca. Tiba-tiba teman ku teringat, dia harus mengirim data untuk sekolah nya di SMA Belitung sana. Lalu dengan serta merta, ia buka laptop-nya dan ia pun mulai meng_attach file. Karena acara di layar kaca tidak menarik, maka ia lanjutkan perjuangannya dengan ber-chatting ria. Ketika file mulai dipindai ia bercakap-cakap dengan pak Kepsek nya yang kebetulan sedang on line. Ia menyampaikan aspirasi bahwa para siswa dapat mengikuti pelatihan di gedung ILKOM ini karena daya tampung lab nya sangat banyak dan terjamin. Ada Sekitar 20 ruangan yang diperuntukkan hanya untuk lab. Dan 1 ruangan terdapat 40 notebook. Maklum, dari tahun ke tahun beratus bahkan beribu peminat ILKOM berdatangan. Untuk mata kuliah yang bernuansa multimedia saja, disediakan 5 ruangan lab, karena ILKOM memang telah terspesifikasi dengan baik.

Setelah pengiriman data selesai, aku dan teman-teman menuju musholla yang tak jauh jaraknya dari kantin. Kami berjama’ah disana.

Jam 13.00…

Aku menuju Prodi di lantai 2 untuk mengajukan surat permohonan pelatihan bagi guru-guru TIK SMA gelombang II. Oleh staf yang disana aku ditunjukkan sebuah ruangan dengan papan nama ‘Ranah kurikulum pendidikan TIK’. Berderet ada 2 ruangan sebelahnya dengan papan nama yang berbeda-beda. Ada ‘Ranah pengembangan software untuk pendidikan TIK’, juga ada ‘Pengembangan infrastruktur pendidikan TIK’. Di depan ketiga ruangan tersebut, terdapat 3 buah ruangan lagi dengan tajuk papan nama yang sama namun hilang kata pendidikan nya.

Jam 19.00..

Kami menuju gedung di samping gedung utama ILKOM, gedung itu dinamai ILKOM’s resort. Gedung itu diperuntukkan khusus bagi para tamu undangan bahkan alumnus ILKOM yang memang sedang melakukan pelatihan disana. Di aula depannya, berkumpul berbagai tim yang mengelilingi puluhan meja bundar, disana kami me-review materi seminar tadi pagi untuk kemudian dijadikan bahan makalah sebagai laporan kegiatan hari ini.

Jam 23.00…

Semua tertidur lelap, aku heran kok mereka bisa yah? Dengan mudahnya gituh. Aku menguap, namun mataku tetap terpicing. Tiba-tiba.. kriiiiiiiiiiing kriiing kriiiing.. kumatikan weker denagn kesal. Huh, mengganggu saja! Tapi lihat! Hei, kok 2009? Skg kan memang tgl 8 Mei?? Tapi 2009?? Oh, aku baru tersadar.. tadi aku bermimpi, teman. Aku bermimpi aku telah menjadi guru, indahnya…Terbetik di benak ku, sunggguh jelita kampus ku, hingga ada Resort-nya segala?? Heum memang, itu memukau tetapi itu bukan kilauan semata, karena kita semua dapat menciptakan kemilau itu, dengan semangat kerja sama dan mau berbagi pengalaman bahkan knowledge, layaknya semut yang selalu memberitahu koloninya ketika dia menemukan sumber makanan, layaknya beribu lidi yang tercecer, namun bersatu karena tergabung dalam 1 ikatan, 1 wadah madani. Sungguh, suatu kekuatan kolaborasi memang akan membentuk sinergi yang mumpuni.

MARI, KITA CIPTAKAN ILKOM LEBIH BAIK, DEMI PENINGKATAN PENDIDIKAN INDONESIA!!

About these ads

Aksi

Information

11 tanggapan

8 05 2009
Asep Sufyan Tsauri

sungguh menghanyutkan,, hehehe,,,

keep blogging!!

9 05 2009
anz8

thank’s “Tsauri”.. U’re my great inspiration..keep share anything’s to improve our ability! ^_~

27 05 2010
riyani

…..U’re my great inspiration….
adeuh cuit…cuit…
bagus teh mimpinya…:)

11 11 2009
tupaitambun

Hidup guuuuruuuuuuuu….!!!

(terutama guru TIk… hehe… semoga cerah..)

12 11 2009
anz8

siip.. pastinyaa

11 10 2010
rach

cita2 yg mulya dan perlu diperjuangkan..
guru.. meski gajihnya kecil tp didalamnya terdapat pundi2 pahala yg melimpah..
(bagi yg ikhlas) ;)

11 10 2010
anz8

sure! sejatinya.. ikhlas!

12 01 2011
nfrozi

Subhaanallaah…
Tetep SEMangat Bu Guru.
Semoga pahalanya mengalir tiada henti ^^

12 01 2011
anz8

amiin, jazakaloj :)

22 09 2011
sunarno2010

ingin jadi guru? saya tak ingin jadi guru malah nyatanya kini jadi guru

28 09 2011
anz8

lalu? bagaimana skg? adakah kesan pesan? :)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: